Haram Menyentuh Wanita yang Bukan Muhrim

Hukum Menyentuh kulit wanita non muhrim tanpa penghalang adalah haram

Meskipun dengan penghalang namun dengan syahwat itupun hukumnya haram

Hal itu dijelaskan dalam kitab sullamut taufiq

Diantara yang termasuk dalam maksiat tangan adalah : menyentuh wanita yang bukan muhrim tanpa penghalang atau dengan penghalang namun dengan nafsu syahwat

Ini juga landasan kenapa pacaran kurang pantas dilakukan oleh remaja muslim , salah satunya adalah karena orang pacaran identik dengan pegangan tangan, gandengan, minimal ada sentuhan kulit antara keduanya. dan ini mutlak haram hukumnya.

Rasulullah saw bersabda :

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Kepala salah seorang ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani)

Bersalaman 

Timbul masalah, bagaimana cara bersalaman dengan wanita yang bukan muhrim misal sewaktu idul fitri  ?

jawab : Tetap haram bersalaman dengan wanita bukan muhrim , karena keduanya menempelkan kulit. kalau mau bersalaman caranya adalah dengan menelungkupkan kedua telapak tangan dan diletakkan di depan dada. Dengan demikian keduanya terhindar dari bersalaman sentuhan kulit.

Wallahu a’lam

Syarat Membaca Al Fatihah di dalam Shalat

Syarat2 nya :

1. Tertib, atau urut ayat2 nya

2. Berkelanjutan artinya tidak boleh diselingi dengan hal lain

3. Menjaga tasydid

4. Tidak keliru yang merubah artinya

5. Bacaannya bisa didengar oleh telinganya sendiri

6. Tidak diselingi dengan dzikir yang lain

Sumber : Al Mabadiul Fiqhiyah juz 3 hal 22

Rukun Shalat

Rukun Shalat ada 13 , yaitu :

1. Niat yang berbarengan dengan Takbiratul Ihram

2. Berdiri bagi yang mampu untuk shalat fardlu

3. Takbiratul Ihram

4.Membaca Alfatihah

5. Ruku dengan thumaninah

6.I’tidal dengan thumaninah

7. Sujud dua kali dengan thumaninah

8. Duduk diantara dua sujud dengan Thumaninah

9. Duduk akhir

10 Membaca Tasyahud atau Tahiyyaat akhir pada duduk akhir

11. Shalawat atas Nabi saw pada duduk akhir

12. Salam yang pertama

13. Tertib

Sumber : Al Mabadiul Fiqhiyah juz 3 hal 21

Pengertian Sujud Sahwi dan Sebab2 nya

Sujud Sahwi adalah sujud dua kali setelah tahiyyat akhir dan sebelum salam

Sebab2 sujud sahwi :

  1. Meninggalkan sebagian dari sunnah ab’adl shalat *
  2. Melakukan sesuatu karena lupa ,yang sesuatu tsb membatalkan shalat apabila dilakukan dengan sengaja seperti berbicara sedikit karena lupa
  3. Ragu-ragu di dalam rakaat shalat, Maka apabila ragu2 di jumlah rakaat shalat tentukan rakaat yang yaqin ,  sempurnakan shalat kemudian melakukan sujud sahwi
  4. Memindah Rukun Qauli ** yang tidak membatalkan di selain tempat nya seperti mengulang membaca Al-fatihah di dalam ruku’, sujud, atau saat duduk

Keterangan :

* Sunnah Ab’adl ada 7 :

    1. Duduk tahiyyat awal
    2. Membaca bacaan Tahiyyat awal
    3. Membaca shalawat atas Nabi pada tahiyyat awal
    4. Membaca Shalawat atas keluarga Nabi pada tahiyyat akhir
    5. Membaca doa qunut pada shalat shubuh dan shalat witir pada setengah akhir bulan ramadhan
    6. Berdiri untuk membaca doa qunut
    7. Membaca shalawat atas Nabi , keluarga Nabi dan Shahabat Nabi di dalam doa qunut

** Rukun Qauli adalah rukun pengucapan ataurukun  yang diucapkan oleh lisan, ada 5 yakni:

1. Takbiratul Ihram

2.Membaca Al fatihah

3. Membaca Tahiyyat Akhir pada duduk terakhir

4. Membaca shalawat pada duduk terakhir

5. Membaca salam yang pertama

Untuk Rukun qauli , ketika mengucapkan atau membaca suaranya harus bisa didengar oleh telinga sendiri apabila hanya di hati atau hanya berbisik pelan yang telinga sendiri tidak mendengarnya maka tidak sah rukun qauli nya

Sumber : Al Mabadil Fiqhiyah Juz 3 hal 24

Sunnah sebelum Shalat dan Sunnah saat Shalat

Sunnah sebelum shalat :

  1. Adzan untuk shalat lima waktu kecuali di waktu shubuh karena sunnah adan dua kali sebelum shubuh yang pertama di pertengahan malam dan yang kedua setelah terbit fajar
  2. Iqamat
  3. Siwak , siwak sunnah di tiap2 waktu shalat kecuali sesudah zawal untk orang yang berpuasa
  4. Terdapat sutroh untuk mencegah orang lewat di depannya

Sunnah saat shalat, dibagi 2 sunnah ab’adl dan sunnah haiat:

A. Sunnah Ab’adl shalat , ada 7 , yang siapa saja meninggalkannya maka diganti dengan sujud sahwi , yakni :

    1. Duduk tahiyyat awal
    2. Membaca bacaan Tahiyyat awal
    3. Membaca shalawat atas Nabi pada tahiyyat awal
    4. Membaca Shalawat atas keluarga Nabi pada tahiyyat akhir
    5. Membaca doa qunut pada shalat shubuh dan shalat witir pada setengah akhir bulan ramadhan
    6. Berdiri untuk membaca doa qunut
    7. Membaca shalawat atas Nabi , keluarga Nabi dan Shahabat Nabi di dalam doa qunut

B. Sunnah Haiat shalat, ada banyak diantaranya :

  1. Mengangkat kedua tangan setentang bahu saat takbiratul ihram , saat hendak ruku’ , saat bangun dari ruku’, dan saat bangun dari tahiyyat awal
  2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah dada
  3. Membaca doa iftitah
  4. Membaca ta’awudz
  5. Membaca Surat setelah Alfatihah selain makmum , karena makmum mendengarkan bacaan imamnya
  6. Mengeraskan suara pada tempat nya dan menyamarkan suara pada tempatnya
  7. Membaca takbir keras dan pelan
  8. Membaca tasbih di dalam ruku dan sujud
  9. Membaca amin (setelah Alfatihah)
  10. Membaca (“sami’allahu liman hamidah”) pada saat I’tidal
  11. Duduk Iftirasy di semua duduk
  12. Duduk tawarruk pada duduk terakhir (tahiyyat akhir)
  13. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha di dalam tasyahud , tangan kiri terbuka dan tangan kanan menggenggam kecuali jari telunjuk
  14. Membaca salam yang kedua

Sumber : Al Mabadil Fiqhiyah Juz 3 hal 23

Al Mabadiul Fiqhiyah Juz 1

Disusun Oleh Ustadz Umar Abdul Jabbar

Tanya : Apakah Islam ?
Jawab : Islam yaitu Agama yang Allah mengutus Nabi Muhammad dengannya untuk hidayah manusia dan kebahagiannya

Tanya : Berapakah Rukun Islam ?
Jawab : Rukun Islam ada lima : Yang pertama Menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan adalah Nabi Muhammad utusan Allah,
Yang kedua Mendirikan Shalat, Yang ketiga Membayar zakat, Yang keempat Puasa Ramadlan, Yang kelima Haji ke Baitullah bagi yang Mampu

Tanya : Apa makna “Asyhadu An Laa ilaaha Illallah” ?
Jawab : Maknanya adalah bahwa saya meyakini sesungguhnya Allah itu satu tidak ada sekutu bagi-Nya dalam beribadah kepada-Nya dan dalam kekuasaan-Nya

Tanya : Apa makna “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”?
Jawab : Maknanya adalah bahwa saya meyakini sesunguhnya Sayyidina Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh makhluk dan wajib mentaati apa yang diperintahnya dan
membenarkan apa yang dikabarkannya dan menjauhi apa yang dilarangnya

Baca tulisan ini lebih lanjut

Hukum menyentuh Mushaf Al-Qur’an tanpa berwudlu

Di dalam madzhab syafi’i sudah jelas hukumnya, bahwa hukum menyentuh mushaf Al-Qur’an tanpa berwudlu adalah haram

karena dalilnya ayat dan haditsnya jelas

Namun belakangan ini muncul paham2 yang mengatakan tidak apa2 menyentuhnya tanpa berwudlu dan tidak haram meskipun kita tidak punya wudlu

Untuk menjawab ini saya akan kemukakan dalil-dalil kitab Madzhab Syafi’i yang menunjukkan bahwa menyentuh Mushaf Al-qur’an tanpa berwudlu adalah tidak boleh dan haram hukumnya

Dalil pertama

Menurut Kitab Al-Mabadiul Fiqhiyah karangan Ustadz Abdul Jabbar juz 3 , hal 18 :

Apa saja yang diharamkan atas orang yang berhadats kecil :

1. Shalat

2. Twafaf

3. Menyentuh Mushaf (Al-qur’an )dan membawanya

lebih jelas lagi dijelaskan Al-Mabadiul Fiqhiyah juz 4, hal 15 :

Apa yang haram dengan orang yang berhadats kecil :

1. Shalat, karena sabda Nabi Saw : Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (berwudlu)

2. Thawaf , karena sabda Nabi saw : Sesungguhnya thawaf di Baitullah adalah shalat

3. Menyentuh Mushaf  (Al-qur’an) dan membawanya , Karena firman Allah ta’ala : Tidak boleh menyentuhnya (Al-qur’an) kecuali orang-orang yang suci, dan sabda Nabi saw : Tidak boleh menyentuh Al-qur’an kecuali orang yang suci

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarat dan Rukun Shalat Jumat

Didalam kitab mabadiul Fiqhiyyah juz 3 halaman 32 dijelaskan mengenai shalat Jumat

Shalat Jumat : Hukumnya Fardlu ‘ain atas setiap muslim yang mukallaf ,  laki-laki, sehat dan mampu
Syarat-syarat Sah Shalat Jumat :
1. Didirikan di satu negara atau satu desa
2. Jumlah jamaahnya minimal empat puluh orang
3. pelaksanaan seluruhnya pada waktu dzuhur
4.  Didahului oleh dua khutbah
5. Tidak didahului atau bersamaan dengan shalat jumat lain di negara(daerah) tersebut

*) keterangan : Mukallaf adalah seorang yang sudah dibebani hukum syariat agama, dalam artian sudah baligh dan berakal sehat

Rukun dua Khutbah :
1. Khutbah harus dilakukan dengan keadaan suci dari kedua hadats (besar maupun kecil)
2. Pakaian, badan dan tempatnya harus suci dari najis
3. Harus menutup aurat
4. Melakukan khutbah dalam keadaan berdiri jika mampu
5. Duduk diantara dua khutbah dengan lama waktu perkiraan thumaninah
6. Mengeraskan khutbah agar didengar oleh empat puluh orang
7. Harus berkelanjutan antara dua khutbah,  diam diantara keduanya dan shalat

Udzur meninggalkan Shalat Jumat :
Gugur kewajiban shalat Jumat dengan sebab sakit, dan hujan yang sangat deras

Hadits mengusap muka setelah berdoa bukanlah Hadits Dla’if

Saya menemukan situs di link ini  yang menyatakan bahwa hadits mengusap muka setelah berdoa adalah hadits dla’if dan tidak bisa dijadikan pegangan , dalam situs tersebut :


Telah diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, ia berkata :
Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila mengangkat kedua tangannya waktu berdo’a, beliau tidak turunkan kedua (tangannya) itu sehingga beliau mengusap mukanya lebih dahulu dengan kedua (telapak) tangannya. [Riwayat : Imam Tirmidzi]

Hadits ini sangat lemah, karena disanadnya ada seorang rawi bernama HAMMAD BIN ISA AL-JUHANY.

1. Dia ini telah dilemahkan oleh Imam-imam : Abu Dawud, Abu Hatim dan Daruquthni.
2. Imam Al-Hakim dan Nasa’i telah berkata : Ia telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij dan Ja’far Ash-Shadiq hadits-hadits palsu.
[Baca : Al-Mizanul 'Itidal jilid I hal. 598 dan Tahdzibut-Tahdzib jilid 3 halaman. 18-19]

Sebelum membaca situs ini sebelumnya saya sudah membuka kitab bulughul maram , setelah membaca situs itu saya kembali membuka kitab tersebut yang sekarang ada di depan saya, saya mengerinyitkan kening karena di kitab bulughul maram dikatakan hadits hasan dan bukan hadits dlaif

Tepatnya ada di halaman 312 hadits ke 1581 , kitab Bulughul Maram karangan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani :

“Dan dari Umar Ra  berkata : Rasulullah saw apabila memanjangkan(mengangkat) kedua tangannya di dalam berdoa beliau tidak mengembalikan(menurunkan) kedua tangannya sehigga beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ” Dikeluarkan oleh Imam Ahmad . Dan termasuk yang menyaksikan(mengeluarkan) diantaranya :

di akhir hadits nomor tersebut ada keterangan bahwa ada hadits lain di nomor berikutnya yang diriwayatkan oleh Imam lain

Hadits selanjutnya yakni nomor 1582 :

1582. Hadits dari Ibnu Abbas Ra diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya, menyimpulkan dan memutuskan sesungguhnya hadits tersebut hadits hasan

Jelaslah di urutan hadits selanjutnya yakni hadits ke 1582 ada hadits serupa dari Ibnu Abbas Ra dan riwayatnya Abu Daud , dan haditsnya adalah hasan bukan dlaif seperti yang dikatakan sebagian orang

Dari hadits tersebut juga bisa ditarik kesimpulan bahwa Nabi Mengangkat tangan ketika berdoa dan setelah itu beliau mengusap wajah dengan kedua tangannya

Adapun mengenai hadits mengangkat tangan ketika berdoa , disebutkan juga dalam kitab bulughul maram hadits ke 1580 :

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“

Hadits tersebut dari Salman Alfarisi

Jelaslah bahwa berdoa mengangkat kedua tangan bukanlah bid’ah dan ada hadits nya yakni terdapat di dalam kitab bulughul maram hal 311.

Wallahu a’lam

 

Diantara keutamaan Bulan Sya’ban

Di dalam kitab Durratun Nashihin banyak keterangan menghidupkan malam Nishfu sya’ban, diantaranya :

Diriwayatkan  dari ‘Atha bin Yasar ra :
“Tidak ada satu malam setelah lailatul qadar yang lebih mulia dari malam Nishfu sya’ban”

Sebagian Hukama (Ahli hukum) mengatakan :
“Sesungguhnya Bulan Rajab untuk minta ampun dari dosa2, Bulan Sya’ban untuk memperbaiki hati dari keburukan2, Bulan Ramadlan untuk menerangi hati, dan Lailatul qadar untuk mendekat kepada Allah”

Dari Nabi Saw bersabda :
“Keutamaan bulan sya’ban atas seluruh bulan (kecuali Ramadlan) adalah seperti keutamaanku atas seluruh para nabi, dan keutamaan Ramadlan atas seluruh bulan adalah seperti keutamaan Allah atas hamba-Nya”

Nabi Saw bersabda :
“Allah mengangkat  amal-amal  hamba-Nya semuanya di bulan ini”

Nabi bersabda :
“Apakah kalian tahu kenapa disebut bulan Sya’ban? ” para sahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” Bersabda Nabi :”Karena sesungguhnya bercabang didalamnya kebaikan yang banyak”

 

Dari Abu Hurairah Ra berkata :
Bersabda Nabi Saw : Mendatangiku Jibril pada malam Nishfu Sya’ban dan berkata :
“Wahai Muhammad, Malam ini dibuka pintu2 langit dan pintu2 rahmat maka bangunlah dan shalat, angkat kepalamu dan tanganmu ke langit (berdoa) “, Maka aku bertanya :
“Wahai Jibril malam apa ini” , Maka Jibril menjawab : “Ini adalah malam dibukakannya tiga ratus pintu rahmat”

Uraian di atas diambil dari kitab Durratun Nasihin
Bab keutamaan Bulan Sya’ban yang agung , hal 217
karangan Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir

Wallahu a’lam

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.207 pengikut lainnya.