Haram Menyentuh Wanita yang Bukan Muhrim

Hukum Menyentuh kulit wanita non muhrim tanpa penghalang adalah haram

Meskipun dengan penghalang namun dengan syahwat itupun hukumnya haram

Hal itu dijelaskan dalam kitab sullamut taufiq

Diantara yang termasuk dalam maksiat tangan adalah : menyentuh wanita yang bukan muhrim tanpa penghalang atau dengan penghalang namun dengan nafsu syahwat

Ini juga landasan kenapa pacaran kurang pantas dilakukan oleh remaja muslim , salah satunya adalah karena orang pacaran identik dengan pegangan tangan, gandengan, minimal ada sentuhan kulit antara keduanya. dan ini mutlak haram hukumnya.

Rasulullah saw bersabda :

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Kepala salah seorang ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani)

Bersalaman 

Timbul masalah, bagaimana cara bersalaman dengan wanita yang bukan muhrim misal sewaktu idul fitri  ?

jawab : Tetap haram bersalaman dengan wanita bukan muhrim , karena keduanya menempelkan kulit. kalau mau bersalaman caranya adalah dengan menelungkupkan kedua telapak tangan dan diletakkan di depan dada. Dengan demikian keduanya terhindar dari bersalaman sentuhan kulit.

Wallahu a’lam

Iklan

6 Perkara yang menyamai seluruh dunia

Di dalam kitab Nashaihul Ibad , Bab ke 6 Maqalah ke 9 :

Berkata Baraz Jamhar : Ada enam perkara yang menyamai seluruh dunia :

1. Makanan yang enak

2. Anak shalih yang berbakti kepada orang tua

3. Istri shalihah yang taat kepada Allah dan suaminya

4. Ucapan yang dikuatkan yang tidak berubah-ubah (Al-kalamul muhkam)

5. Akal yang sempurna,

Diriwayatkan dari Nabi saw bersabda : “Setiap amal adalah tiang, dan tiang amal seseorang adalah akalnya, maka kadar akal seseorang adalah ibadahanya kepada tuhannya”.

Sahabat umar Ra berkata :  “pokok dari lelaki adalah akalnya, kecukupannya adalah agamanya, dan wibawanya adalah akhlaknya”.

6. Badan yang sehat.

8 Perkara Yang Menghiasi 8 Perkara

Terdapat di dalam kitab Nashaihul Ibad karangan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani , bab 8 maqalah ke 2 :

Berkata Abu Bakar Ash shiddiq ra :  “Ada  8 perkara yang menjadi hiasan 8 perkara :

1. Menjaga dari meminta-minta adalah hiasan faqir

2. Syukur adalah hiasan nikmat, karena syukur menjadi sebab akan tetapnya nikmat yang sudah ada dan sebagai wasilah kepada datangnya nikmat yang belum ada

3. Sabar adalah hiasan Bala (cobaan) ,

Diriwayatkan dari Nabi Saw. berkata: “Sabar adalah penutup kerupekan(kesempitan) dan penolong atas perkara yang susah”

Berkata Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah : ” Sabar adalah kendaraan yang tidak terjungkal dan qanaah (menerima) adalah pedang yang tidak berkarat”

4.  Tawadlu’  (rendah hati) adalah hiasan hitung-hitungan

5. Aris (Bijaksana)  adalah hiasan ilmu

6. menghinakan diri adalah hiasan orang yang mencari ilmu

7. Meninggalkan angan2 adalah hiasan ihsan yakni melakukan kebaikan

8. Khusyu’ adalah hiasan hiasan shalat “.

 

 

Wallahu a’lam

Adab Bersenggama

Dinukil dari Terjemah Kitab Qurrratu ‘Uyun  :

“Bersenggama dapat dilakukan pada setiap waktu. kecuali saat yang akan datang bertubi-tubi. Dalam waktu tersebut bersenggama dapat dimulai, hai teman! sebagaimana keterangan yang ada pada surat Al-Awan”

Syekh penyair menerangkan bahwasanya bersenggama dapat dilakukan setiap waktu, baik siang maupun malam harinya kecuali waktu yang akan datang keterangannya. Sebagaimana Firman Allah yang artinya, “Wanita-wanita kalian adalah(bagaikan) tanah tempat kalian bertani(bercocok tanam), maka datangila tanah tempat menanam kalian itu sesuka hatimu.”

Telah berkata Al-Imam Abdillah bin Al-Hajj dalam kitab Al-Madakhil, “Anda diperbolehkan dalam memilih melakuka senggama, baik di permulaan ataupun di akhir malam. Namun pada permulaan malam itu lebih utama. sebab saat mandi janabat masih cukup dan longgar. Berbeda dengan senggama di akhir malam, terkadang waktu amat sempit untuk mandi janabat dan shalat berjamaah shubuh, maka terpaksa harus ditinggalkan atau telah keluar dari yang utama, yaitu shalat di awal waktu.”

Pendapat tersebut ditentang oleh Al-Imam Al-Ghazali. Beliau berpendapat : Bahwa senggama yang dilakukan pada awal malam itu hukumnya makruh, sebab (orang yang telah melakukan senggama) itu akan tidur dalam keadaan junub(tidak suci)

kemudian syekh penyair menerangkan beberapa malam yang disunnahkan di dalamnya melakukan senggama, seperti pada arti bait di bawah ini:

“Bersetubuhlah pada malam jum’at dan senin amat diharuskan. sebab keutamaan di malam ini tiada diragukan”.

Sebab malam Jumat atau hari Jum’at adalah hari yang paling utama diantara hari-hari yang tujuh.

“Allah swt memberikan rahmat kepada orang yang daripadanya orang lain mengerjakan mandi dan dirinya sendiri mengerjakannya”(HR. Ashabur sunan).

Syekh Suyuthi berkata : Hadits diatas dikuatkan oleh hadits dibawah ini yang artinya :

“Adakah seseorang diantara kamu sekalia tak sanggup bersenggama dengan istrinya setiap hari jumat? sebab untuknya memperoleh dua macam ganjaran. Yaitu pahala ia sendiri mandi(janabat) dan pahala istrinya yang melakukan mandi(janabat) juga”(HR.Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Imam dari hadist Abu Hurairah.

“Nabi saw bersabda: Janganlah salah seorang di antara kamu sekalian (yang melakukan senggama) dengan istrinya sebagaimana  hewan ternak. sebaiknya keduanya menggunakan perantara. Ditanyakan apakah perantara itu? Nabi Saw menjawab : Ia adalah ciuman dan rayuan.”