Hukum menyentuh Mushaf Al-Qur’an tanpa berwudlu

Di dalam madzhab syafi’i sudah jelas hukumnya, bahwa hukum menyentuh mushaf Al-Qur’an tanpa berwudlu adalah haram

karena dalilnya ayat dan haditsnya jelas

Namun belakangan ini muncul paham2 yang mengatakan tidak apa2 menyentuhnya tanpa berwudlu dan tidak haram meskipun kita tidak punya wudlu

Untuk menjawab ini saya akan kemukakan dalil-dalil kitab Madzhab Syafi’i yang menunjukkan bahwa menyentuh Mushaf Al-qur’an tanpa berwudlu adalah tidak boleh dan haram hukumnya

Dalil pertama

Menurut Kitab Al-Mabadiul Fiqhiyah karangan Ustadz Abdul Jabbar juz 3 , hal 18 :

Apa saja yang diharamkan atas orang yang berhadats kecil :

1. Shalat

2. Twafaf

3. Menyentuh Mushaf (Al-qur’an )dan membawanya

lebih jelas lagi dijelaskan Al-Mabadiul Fiqhiyah juz 4, hal 15 :

Apa yang haram dengan orang yang berhadats kecil :

1. Shalat, karena sabda Nabi Saw : Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (berwudlu)

2. Thawaf , karena sabda Nabi saw : Sesungguhnya thawaf di Baitullah adalah shalat

3. Menyentuh Mushaf  (Al-qur’an) dan membawanya , Karena firman Allah ta’ala : Tidak boleh menyentuhnya (Al-qur’an) kecuali orang-orang yang suci, dan sabda Nabi saw : Tidak boleh menyentuh Al-qur’an kecuali orang yang suci

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Memburu Lailatul Qadar – saatnya mengencangkan kain sarung

Nanti malam sudah memasuki malam ke 21, masuk pada sepuluh hari terakhir yang dikatakan dalam kitab ‘itqun minannar atau bebas dari api neraka. Di episode ini lah banyak riwayat yang menyebutkan akan ada malam spesial yang dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad yakni Malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dimana apabila kita beribadah pada malam itu maka pahalanya setara dengan beribadah 1000 bulan. Mengenai kapan tepatnya malam itu sengaja dirahasiakan oleh Allah agar umat islam berlomba-lomba mencarinya. Banyak riwayat mengenai malam mulia ini

Di dalam kitab Bulughul Maram hal 140 :

hadits ke 716 : “Dan dari Aisyah ra berkata : Adalah Rasulullah saw apabila masuk sepuluh hari (sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan) Beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” (Muttafaqun ‘alaih)

hadits ke 717 : “Dan Dari Aisyah ra : sesungguhnya Nabi Saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sampai Allah mewafatkannya, kemudian beri’tikaf pula para istri nya sesudahnya “(Muttafaqun ‘alaih)

hadits ke 722 : Dan dari Ibnu Umar ra : Sesungguhnya beberapa laki-laki dari sahabat Nabi saw dilihatkan kepada mereka di dalam mimpi lailatul qadar pada malam ke tujuh bagian yang akhir , maka berkata Rasulullah saw : Ditunjukkan kepadaku (kebenaran) mimpi kamu, yaitu telah setuju pada malam ke tujuh bagian yang akhir, maka barangsiapa yang mencarinya maka carilah ia pada malam ke tujuh yang akhir (Muttafaqun’alaih)

maksud tujuh yang akhir adalah malam keduapuluh tujuh

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Ramadhan menurut kitab Durratun Nasihin – Part 3

Ini adalah part 3 part yang terakhir saya tulis, sebelumnya ada part 1 ini di link ini dan part 2 di link ini, semoga Allah meridlai pengarang kitabnya yakni Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Alkhaubawiyiyi.

Keutamaan Bulan Ramadhan, hal 18

Dan dari Anas bin Maik Dari Nabi as : “Tidak ada doa kecuali antara dia dan langit ada hijab sehingga dibacakan shalawat atas Nabi as maka apabila dibacakan shalawat atas nabi maka terbuka hijab tersebut dan masuklah doa tersebut dan apabila tidak dilakukan seperti itu maka doanya kembali ”

Dikisahkan sesungguhnya ada seseorang dari orang shalih yang duduk tasyahud dan lupa akan shalawat atas Nabi saw, maka dia melihat Rasulullah di dalam mimpinya maka Beliau saw berdiri dan berkata : kenapa kamu lupa shalawat atasku ?
Maka orang itu menjawab : Ya Rasulullah aku sibuk dengan memuji Allah dan ibadah kepadanya maka aku lupa shalawat atasmu, maka berkata Rasulullah saw : apakah kamu mendengar sabdaku: “amal-amal terhenti dan doa-doa terhalangi sehingga dibacakan shalawat atas ku walau sesungguhnya ada seorang hamba datang pada hari kiamat dengan kebaikan ahli dunia dan tapi tidak ada di dalamnya shalawat atasku maka tertolaklah atasnya kebaikannya dan tidak ada sesuatu yang diterima darinya (Zubdatun)

Dan diriwayatkan sesungguhnya Musa as bermunajat kepada tuhannya dan berkata :” Tuhanku apakah engkau memuliakan seseorang seperti engkau muliakan aku sebagaimana engkau perdengarkan kalam-Mu padaku ? Allah berkata : Wahai Musa sesungguhnya aku mempunyai hamba-hamba yang aku keluarkan di akhir zaman maka aku muliakan mereka dengan bulan Ramadhan dan Aku lebih dekat kepada mereka daripada kamu, Maka sesungguhnya Aku berbicara padamu sedangkan antara Aku dan antara kamu ada seribu hijab maka apabila umat Muhammad puasa dan putih bibirnya dan kuning warnanya maka aku angkat hijab itu saat berbuka, Wahai Musa beruntung bagi orang yang haus tenggorokannya dan lapar perutnya di bulan Ramadhan maka aku tidak membalasnya selain bertemu dengan-Ku”

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Ramadhan menurut kitab Durratun Nasihin – Part 2

Saya akan meneruskan lanjutan kitab Durratun Nasihin yang kemarin part 1 (link di sini) , sekarang saya beri judul part 2

semoga Allah memberi kesempatan dan kekuatan untuk bisa menuliskan lanjutannya nanti di part 3

Keutamaan Bulan Ramadhan , hal 9

Dan dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw sesungguhnya Beliau berkata : “Sesungguhnya manusia utama yang bersamaku pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat padaku”

Dan dari Zaid bin Rafi dari Nabi Muhammad saw : “Barangsiapa yang bershalawat padaku 100 kali pada hari Jumat maka Allah mengampuninya walaupun dosanya sebanyak buih di lautan” (Zubdatul Waidzin)

Riwayat Dari Imam Bukhari hadits dari Abu Hurairah:

(Barangsiapa yang berdiri di bulan Ramadhan) maksudnya adalah menghidupkan malam2 nya dengan ibadah selain Lailatul Qadar yang pasti atau maknanya melaksanakan shalat Tarawih di dalamnya,

(Dengan Iman) maksudnya adalah membenarkan pahalanya

( Dan dengan ihtisab) maksudnya adalah dengan ikhlas

(Maka diampuni apa yang telah lalu dari dosa2 nya) . (~ dalamKitab Masayariq)

Maka sepantasnya bagi orang mukmin untuk menghormati bukan Ramadhan dan menjauhi dari kemungkaran dan menyibukkan dengan ketaatan dari shalat, tasbih, dzikir dan Membaca Al-Qur’an

Allah berkata kepada Musa as : Sesungguhnya aku memberi umat Muhammad dengan dua nur(cahaya) supaya tidak dibahayakan oleh dua kegelapan, Musa berkata : Apakah dua nur itu ya Rabb ? Allah berkata : Nur Ramadhan dan Nur Al-Qur’an, Maka berkata Musa : “Dan apakah dua kegelapan itu ya Rabb ?” Allah berkata : “Kegelapan kubur dan kegelapan hari kiamat” (Durratul Wa’idzin)

Dan dari Anas bin Malik ra berkata dari Nabi Muhammad saw :
“Barang siapa yang menghadiri majis ilmu pada bulan Ramadhan maka Allah ta’ala catat baginya setiap langkah dengan ibadah satu tahun dan nanti dia bersamaku di bawah ‘Arsy, dan Barang siapa yang mendawamkan (istiqamah) shalat berjamaah di bulan Ramadhan maka Allah ta’ala memberinya dengan setiap rakaat satu madinah yang penuh dari nikmat2 Allah , Dan barang siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya di bulan Ramadhan maka akan dapat melihat Allah ta’ala dengan rahmat dan Anakafil  di dalam surga, dan tidak ada orang yang mencari ridla suaminya di bulan Ramadhan kecuali baginya pahala Maryam dan Asiyah, Dan barang siapa yang memenuhi hajat saudaranya yang muslim di dalam bulan Ramadhan maka Allah penuhi baginya seribu hajat pada hari kiamat”

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Ramadhan menurut kitab Durratun Nasihin – Part I

Di dalam kitab Durratun Nasihin banyak dijelaskan tentang keutamaan2 bulan Ramadhan

Di sini saya akan menuliskan sedikit demi sedikit oleh karenanya saya beri judul part I semoga ada part 2 dan seterusnya

Keutamaan Bulan Ramadhan (hal 7)

Dari Nabi saw : Shuhuf Nabi Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat bukan pada bulan Ramadhan, Injil pada tanggal tiga belas , Zabur pada tanggal delapan belas Ramadhan dan Al-Qur’an pada tanggal empat belas.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra sesungguhnya Beliau berkata : bersabda Nabi saw :
Celaka seorang laki2, Disebutkan namaku di sisinya tapi dia tidak bershalawat padaku, Celaka lah laki2 yang di sisinya terdapat kedua orang tuanya atau salah satu darinya tapi dia tidak memenuhi hak2 nya yang dengan sebabnya dia masuk surga, celakalah laki2 Ramadhan telah masuk dan sempurna Ramadhannya sebelum dosanya diampuni

Karena Ramadhan adalah bulan rahmat dan ampunan dari Alah ta’ala maka jika Allah tidak mengampuninya di dalam bulan Ramadhan maka dia adalah rugi (Zubdatul waidzin)

Dan diriwayatkan dari Nabi as : Barang siapa yang bershalawat atas ku pada hari Jumat seratus kali maka datang pada hari kiamat bersama cahaya yang jika cahaya tersebut dibagikan diantara seluruh makhluk maka cahaya tersebut akan memenuhinya (Zubdatul waidzin)

Dari Nabi saw : Barangsiapa yang gembira dengan masuknya bulan Ramadhan maka Allah haramkan jasadnya atas neraka

Baca pos ini lebih lanjut

Hadits mengusap muka setelah berdoa bukanlah Hadits Dla’if

Saya menemukan situs di link ini  yang menyatakan bahwa hadits mengusap muka setelah berdoa adalah hadits dla’if dan tidak bisa dijadikan pegangan , dalam situs tersebut :


Telah diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, ia berkata :
Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila mengangkat kedua tangannya waktu berdo’a, beliau tidak turunkan kedua (tangannya) itu sehingga beliau mengusap mukanya lebih dahulu dengan kedua (telapak) tangannya. [Riwayat : Imam Tirmidzi]

Hadits ini sangat lemah, karena disanadnya ada seorang rawi bernama HAMMAD BIN ISA AL-JUHANY.

1. Dia ini telah dilemahkan oleh Imam-imam : Abu Dawud, Abu Hatim dan Daruquthni.
2. Imam Al-Hakim dan Nasa’i telah berkata : Ia telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij dan Ja’far Ash-Shadiq hadits-hadits palsu.
[Baca : Al-Mizanul ‘Itidal jilid I hal. 598 dan Tahdzibut-Tahdzib jilid 3 halaman. 18-19]

Sebelum membaca situs ini sebelumnya saya sudah membuka kitab bulughul maram , setelah membaca situs itu saya kembali membuka kitab tersebut yang sekarang ada di depan saya, saya mengerinyitkan kening karena di kitab bulughul maram dikatakan hadits hasan dan bukan hadits dlaif

Tepatnya ada di halaman 312 hadits ke 1581 , kitab Bulughul Maram karangan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani :

“Dan dari Umar Ra  berkata : Rasulullah saw apabila memanjangkan(mengangkat) kedua tangannya di dalam berdoa beliau tidak mengembalikan(menurunkan) kedua tangannya sehigga beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ” Dikeluarkan oleh Imam Ahmad . Dan termasuk yang menyaksikan(mengeluarkan) diantaranya :

di akhir hadits nomor tersebut ada keterangan bahwa ada hadits lain di nomor berikutnya yang diriwayatkan oleh Imam lain

Hadits selanjutnya yakni nomor 1582 :

1582. Hadits dari Ibnu Abbas Ra diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya, menyimpulkan dan memutuskan sesungguhnya hadits tersebut hadits hasan

Jelaslah di urutan hadits selanjutnya yakni hadits ke 1582 ada hadits serupa dari Ibnu Abbas Ra dan riwayatnya Abu Daud , dan haditsnya adalah hasan bukan dlaif seperti yang dikatakan sebagian orang

Dari hadits tersebut juga bisa ditarik kesimpulan bahwa Nabi Mengangkat tangan ketika berdoa dan setelah itu beliau mengusap wajah dengan kedua tangannya

Adapun mengenai hadits mengangkat tangan ketika berdoa , disebutkan juga dalam kitab bulughul maram hadits ke 1580 :

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“

Hadits tersebut dari Salman Alfarisi

Jelaslah bahwa berdoa mengangkat kedua tangan bukanlah bid’ah dan ada hadits nya yakni terdapat di dalam kitab bulughul maram hal 311.

Wallahu a’lam

 

Sampaikah Hadiah Pahala pada si Mayit?

Kira2 sebulan lalu salah satu teman kerjaku bertanya tentang sampai tidaknya hadiah pahala
ayahnya meninggal dan mengadakan tahlilan namun ternyata ada orang yang datang di rumahnya mengatakan
bahwa tahlilan itu tidak perlu hukumnya bid’ah dan pahalanya tidak sampai pada si mayit
orang tersebut adalah ketua DKM di masjid dekat rumahnya

pertanyaannya adalah benarkah bahwa hadiah pahala tidak sampai?

Agar lebih jelasnya akan aku kutipkan penjelasan dari Buya KH. Siradjuddin Abbas mengenai Hadiah pahala di dalam bukunya
40 Masalah Agama jilid 1 hal 195:

Hakikat Hadiah Pahala

Apakah hakikat hadiah pahala itu?
Setiap orang yang muslim yang berakal diberi pahala oleh Tuhan kalau ia mengerjakan sesuatu amal ‘ibadat. Seseorang yang bersedakah atau berderma kepada fakir miskin mendapat pahala atas amalannya itu, seseorang yang memberikan harta waqaf mendapat pahala atas amalannya, seorang yang berpuasa mendapat pahala atas puasanya itu dan begitulah seterusnya. Tentang hal ini umat islam sedunia sepakat mempercayainya. Karena banyak sekali ayat-ayat Qur’an suci dan hadits-hadits Nabi yang menerangkan hal itu.
Diantaranya firman Tuhan :
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan setimbang zarrah(yang kecil) ciscaya ia akan melihat (mendapat) pahalanya”(Az Zalzalah ayat 7).
Ayat ini menyatakan bahwa setiap orang yang mengerjakan kebaikan, walaupun kebaikan itu kecil sebesar debu atau sebesar zarrah niscaya akan diberi Tuhan upah atau pahalanya.

Nah, pahala amala kebaikan yang telah didapat oleh yang mengerjakan dan sudah dalam berada dalam simpanannya, bolehkah dihadiahkannya kepada orang lain, umpamanya kepada ibu bapaknya, kepada karibnya, kepada saudaranya, baik yang telah wafat atau yang masih hidup, adalah bermanfaat kepadanya di akhirat.

Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah beri’tiqad (mempercayai) bahwa hal itu boleh  dilakukan, dan orang yang diberi hadiah pahala itu mendapat pahala di akhirat.

Demikianlah Abuya di dalam menjelaskan tentang hadiah pahala bahwa hal itu boleh dilakukan dan pahalanya akan sampai kepada si mayit

Adapun mengenai dalil-dalilnya di dalam buku tersebut dijelaskan mulai dari  hal 196 sampai hal 215 ada 19 dalil yang dikemukakan beliau mengenai hadiah pahala , berikut akan aku kutipkan sebagian :

Dalil pertama :
“Dari Ibnu Abbas (Sahabat Nabi) Rda beliau berkata : bahwasanya seorang wanita dari suku Juhainah datang kepada Nabi Muhammad Saw, lalu bertanya : Bahwasanya ibuku bernadzar akan naik haji, tetapi ia meninggal sebelum mengerjakan Haji itu, apakah boleh saya menggantikan hajinya itu? Jawab Nabi : Ya boleh, naik hajilah menggantikan dia!”
Perhatikanlah, umpama ia berhutang tentu engkau bisa membayar hutangnya, maka hutang kepada Tuhan lebih berhak dibayar ” (H. Riwayat Imam Bukhari dan lain lain, lihat Fathul Bari juzu’ IV, pagina 437)

Dalil ketiga:
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. Mendengar seorang laki-laki membaca talbiyah(dalam ibadat haji) “Labbaika  ‘an Syubrumah” (“Oh tuhan ! Saya perkenankan seruanmu untuk mengganti Sybrumah”). Lantas Nabi bertanya kepada orang itu : Siapa Syubrumah itu? Jawabnya : saudara(karib) saya . Apakah engkau sudah mengerjakan haji untukmu? Tanya Nabi . “Belum”, jawabnya.
Nabi berkata : Hajilah dulu untuk dirimu, kemudian baru menghajikan syubrumah”. (H. Riwayat Abu Daud dan lain-lain, lihat sunan Abu Daud juzu II pagina 162)

Dalil keempat :
Tersebut di dalam hadits Muslim bahwasanya Nabi Muhammad Saw pada ketika akan berkorban dua ekor kibasy putih, berniat begini :
“Dengan menyebut Nama Allah Ya Allah terim alah (korbanku) dari Muhammad, dan keluarga Muhammad dan dari Umat Muhammad”(H. Riwayat Imam Muslim, lihat sahih Muslim juzu’ XIII pagina 122).

Dalil ketujuh :
“Barangsiapa yang  disembahyangkan oleh 3 shaf maka wajib baginya mendapat keampunan”.(H.Riwayat Imam Tirmidzi. Lihat sahih Tirmidzi juzu’ IV pagina 247)
Hadits ini menerangkan bahwa seseorang yang meninggal kalau jenazahnya disembahyangkan oleh 3 saf, maka si mayit itu telah berhak mendapatkan keampunan dari Tuhan.
Sembahyang 3 Saf itu bukan amal si mayat, bukan pekerjaannya, tetapi amal orang lain yang hidup, tetapi ia mendapat pahala dan beruntung karenanya. Ini adalah bukti bahwa amal orang lain bisa didapat pahalanya oleh orang lain.

Dalil kesembilan :
“Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang pria bertanya kepada Nabi : Ya Rasulullah, bahwasanya ibu saya telah meninggal, adakah bermanfa’at untuknya kalau saya bersedekah/berwakaf menggantikannya. Jawab  Rasulullah  : Ya na’am. Lalu orang itu berkata : Bahwasanya saya mempunyai sebuah kebun dan saya minta kesaksian tuan bahwa kebun saya itu telah aku sedekahkan/wakafkan untuk ibu saya.”(H. Riwayat Imam Tirmidzi. Lihat Sahih Tirmidzi Juzu’ III, pagina 175)

Dalil kelima belas :
“Dari Mi’qal bin Yasar, berkata Nabi Muhammad Saw. Bacakanlah untuk orang yang mati surat Yassin”.(H.Riwayat Abu Daud, lihat sunan Abu Daud juzu’ III, pagina 91).

Demikian sebagian dalil-dalil yang dapat aku kutipkan , ada 19 dalil dikemukakan oleh Beliau dalam buku tersebut, di penghujung dalil ke 19  Beliau mengutip dari pengarang kitab Bariqatul Muhammadiyah yang mengambil kesimpulan :
“Ketahuilah bahwa yang pokok dalam bab ini, bahwa manusia boleh menghadiahkan pahala amalnya kepada orang lain, baik untuk orang yang telah meninggal maupun untuk orang yang masih hidup, yaitu pahala haji, sembahynag, puasa, sedekah atau lain-lain seperti bacaan Qur’an, bacaan zikir. Apabila seseorang mengerjakan ini, dan ia berikan pahalanya untuk orang lain, itu adalah boleh dan tidak diragukan lagi , dan sampai pahalanya itu kepadanya menurut I’tiqad kaum Ahlusssunnah Wal Jama’ah” (Bariqatul Muhammadiyah, juzu’ II pagina 99)

Aku mengambil sumber yang lain selain dari buku 40 Masalah Agama jilid 1 di atas yakni kitab Jawahirul Arifin juz 3 karangan KH. Ahmad Jauhari Umar ::

Pada halaman 30 :

Dan berkata Nabi saw : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw : “Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta namun belum berwasiat, apakah dapat menjadi kafarat atasnya jika aku bersedekah atasnya?” Nabi menjawab “Iya” (H. Riwayat Imam Muslim juz 2 halaman 13)
Hadits ini adalah nash yang sharih menurut Ahlus sunnah wal jamaah atas sampainya sedekah atas mayit dan manfaatnya atas nya dan sampainya amalan-amalan orang hidup untuk orang orang mati

Pada halaman 31 :

Dan berkata Nabi Saw : “Apabila Anak adam meninggal dunia maka terputuslah amal-amal nya kecuali tiga perkara : Shadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang mendoakan orang tuanya ( H. riwayat Imam Muslim  juz 7 halaman 95)
Dan ini adalah nash yang sharih  menurut Ahlussunnah wal Jamaah bahwa mayit mendapatkan manfaat dengan sedekah jariyah dan mayit mendapatkan manfaat dengan ilmunya setelah matinya dan mayit mendapatkan manfaat dengan doa anaknya yang shalih  dan orang yang meninggal dapat mendapatkan manfaat dengan amalan-amalan orang yang masih hidup.

Dan  di dalam halaman 49 disebutkan :

“Dan di dalam Shahih Muslim di dalam bab sampainya sedekah atas mayit kepadanya terdapat pada juz 3 halaman 81 :
“Dari Siti Aisyah Ra : Sesungguhnya  seorang laki-laki datang kepada Ralullah saw dan berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya ibuku meninggal tiba-tiba dan belum berwasiat dan saya kira kalau beliau dapat berbicara sebelumnya tentu ia akan bersedekah , apakah ia akan dapat pahala jika saya sedekah atas nya? Berkata Nabi : “iya”.
Dan hadits ini adalah nash yang sharih menurut Ahlussunnah wal jama’ah  atas sampainya pahala sedekah dan manfaatnya atas si mayit.
Berkata Imam Nawawi di dalam Syarah Muslim juz 7 halaman 90 :
“Dan di dalam hadits ini bahwasanya sedekah atas mayit akan bermanfaat untuk mayit dan sampai pahalanya . Dan demikian itu dengan ijma’ ulama.
Perkataan “iya” adalah hadits ini membolehkan sedekah atas mayit dan disukai akan hal ini  dan sesungguhnya pahalanya akan sampai padanya dan bermanfaat untuknya dan bermanfaat juga bagi yang menyedekahkannya dan ini semuanya sudah ijma’ umat muslimin (Syarah muslim juz 11 halaman 13)

Terdapat di dalam kitab Fadhilah Sedekah karangan Maulana Muhammad Zakariyya al Kandahlawi  di dalam hadits ke 18 :
“Saad bin Ubadah ra berkata : “Wahai Rasulullah  Saw, ibu saya telah meninggal dunia, sedekah apakah yang lebih baik baginya (agar pahalanya sampai kepada ruhnya) ?”, Rasulullah saw bersabda “Air adalah lebih baik” Maka Saad ra kemudian menggali sumur untuk ibunya (agar pahalanya disampaikan kepada ibunya. (Hr. Malik, Abu Dawud, Nasa’I – Misykaat)

Selanjutnya masih di dalam kitab Fadhilah sedekah halaman 90 :
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Saad ra berkata : “Ya Rasulullah, ketika ibu saya masih hidup beliau telah menunaikan ibadah haji dengan harta saya. Dengan harta sayalah beliau telah memberikan sedekah, bersilaturahim, juga membantu manusia. Kini setelah beliau meninggal dunia, saya meneruskan semua ini atas nama beliau, apakah pahalanya akan sampai kepadanya ? ” Rasulullah saw menjawab “Akan sampai” (Kanzul Ummal)

Di dalam halaman 91 dikatakan :
“Dinyatakan dalam sebuah hadits apabila manusia meninggal dunia, keadaannya di dalam kubur  laksana orang yang sedang tenggelam di dalam air. Dia senantiasa mengharapkan dan menanti-nanti uluran tangan orang tuanya, saudaranya atau sahabat-sahabatnya, sekurang-kurangnya berdoa untuknya. Apabila suatu bantuan sampai, itulah yang paling berharga bagi mereka lebih dari segala-galanya(Ihya ‘Uluumiddiin).

Basyar bin Ghalib Najrani berkata : “saya telah banyak berdoa untuk Rabiah Basri rah.a”
Suatu ketika saya melihatnya dalam mimpi, ia berkata “Basyar, hadiahmu telah sampai kepadaku dalam wadah cahaya yang tertutup kain sutera”, saya bertanya “Hadiah apakah itu?” ia menjawab: “Doa orang-orang islam yang dikabulkan bagi si mati, diisikan di dalam wadah cahaya yang tertutup kain sutera, diberikan kepada si mati sambi diberi tahu, “ini adalah hadiah bagiku dari si fulan” (Ihya ‘Uluumiddiin)

Syekh Taqiuddin rah. a. berkata  : “Barang siapa yang mengira bahwa manusia mendapat pahala hanya untuk amalan-amalannya sendiri saja, maka pendapat mereka adalah bertentangan dengan ijma para ulama. Para ulama telah sepakat bahwa manusia mendapat faedah dari doa orang lain. Ini berarti faedah dari amalan orang lain. Kita lihat Rasulullah saw memberi syafaat pada hari hisab, begitu juga para anbiya as. Semua itu adalah faedah dari amalan orang lain. Para malaikat pun berdoa dan beristighfar bagi orang-orang beriman(sebagaimana dalam surat Al-Mukmin ayat pertama) . Di samping itu Allah swt dengan rahmat dan karunia-Nya mengampuni dosa-dosa orang banyak. Faedah ini juga bukan dari amalan sendiri. Anak anak kaum mukminin akan masuk Jannah bersama kedua orang tuanya (lihat surat Ath Thuur ayar pertama). Orang yang sudah mati mendapat pahala apabila kewajiban hajinya ditunaikan oleh orang lain. Ini semua adalah pahala akibat amalan orang lain. Dan banyak bukti-bukti lain yang mendukung pendapat ini (Badzlul Majhud)

Di halaman 20 dikatakan :

Seorang wali Allah swt mengatakan “saudaraku telah meninggal dunia. Aku telah melihatnya dalam mimpiku , lalu bertanya “Bagaimana keadaanmu di dalam kubur?” , Dia menjawab ” Ketika itu gumpalan api yang besar datang menghampiriku tetapi tiba-tiba doa seseorang telah sampai kepadaku jika tidak api itu telah menyentuhku”

Muhammad bin Ahmad mawazi rah a berkata : ” Aku telah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal rah.a. menasehati kepada manusia, “Apabila kamu menziarahi kubur, hendaklah kamu membaca surat al Fatihah, Qul huwallahu ahad, Qul auudzu birabbil falaq dan Qul auudzu birabbin naas. Setelah itu sampaikanlah pahalanya kepada para penghuni kubur, pahalanya akan sampai kepada mereka,”(Ihyaa ‘Uluumiddiin)

Penutup
Sebagai penutup aku nukilkan kembali kesimpulan penutup dari buku 40 masalah agama bab hadiah pahala halaman 223 :

“Dalam menutup buku perihal masalah Hadiah pahala ini baiklah kami ambil kesimpulan, bahwa barang siapa yang beri’tiqad bahwasanya seseorang manusia  tidak akan dapat manfaat atau faedah melainkan hanya dari amalannya sendiri, maka orang itu telah melawan ijma’ Ulama ulama yang besar dan keluar dari I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah.”

Teman-temanku yang seiman,

Semoga kita selalu dalam lindungan Allah swt, dibimbing oleh Allah agar selamat dunia akhirat

dan semoga kita bisa berkumpul kelak di akhirat Amin…..

Jakarta, 25 Februari

Mahrizal

Referensi :

1. 40 Masalah Agama jilid 1

2. Kitab Jawahirul Arifin juz 3

3. Buku terjemah Fadhilah sedekah